Bersahabat dengan Uang


Duit lagi, duit lagi masalah yang mendesak dalam hidup ini. 

Lirik lagu milik Potret itu tiba-tiba terdengar berkali-kali di telinga saya. Iya, duit. Empat huruf yang fenomenal. Yang disukai tapi kadang juga dibenci oleh manusia. Yang kadang menjadi alat penolong, kadang malah menjerumuskan si manusia itu sendiri ke dalam jurang mara bahaya. Duit ibarat mata pedang,mau duit kertas sampai bitcoin yang sekarang sedfang hitz itu, ibarat kamera DSLR canggih, ibarat smartphone, kalau dipegang oleh orang yang tepat akan membawa manfaat. Tapi kalau dipegang oleh orang yang salah, kata orang Jawa mah….bubrah. Eniwei, bubrah artinya rusak.

Beberapa hari ini, saya sedang berjuang menyelesaikan buku ke dua di tahun 2018. Make It Happen milik Prita Ghozie. Buku yang mengajarkan kita untuk mengelola keuangan ini, tiba-tiba bikin saya pringas-pringis, tersenyum kecut dan sedikit sangsi melihat masa depan. Sejatinya buku ini banyak manfaatnya, tapi ketika membaca bagian pengaturan keuangan, saya lantas berkaca kemudian berkata dengan lantang, “Pu, Prita sedang membuatkan rancangan keuangan untuk sepasang suami istri dengan penghasilan Rp 25.000.000,00 per bulan. Jadi wajar kalau dia membuat rancangan seperti itu. Kalau Prita bikin rancangan keuangan buat kamu, pasti gaya hidupnya bukan kayak gitu. Bukankah Prita bilang, yang bikin seseorang itu miskin bukan soal penghasilan, tapi gaya hidup. Gaya hidup!”
Saya stress banget ngelihat tabelnya Prita pas baca saran untuk si pasangan agar menyisihkan uang khusus untuk simpanan shopping,komisi  untuk hobi, bonus tahunan untuk liburan ke luar negeri, masih memotong berapa persen dari gaji untuk dana pensiun, dan beli emas buat naik haji. Denger kata pensiun saya Cuma bisa nelan air liur deh. Dana pensiun harus sudah dipikir dan disisihkan sejak awal 30 tahun. Gils…..kalau kek gini saya pengen mikir ala Uus aja deh, udah serahin saja sama Allah, rezeki kan Allh yang ngatur. Allah itu kan nggak akan nguji umatnya dengan sesuatu hal yang dia tidak mampu. *nggelinding di kasur*

Tapi kalau saya buru-buru berserah kok rasanya piyeeeee gitu ya? Ikhtiarnya mana?
Maka dari itu jika melihat penghasilan saya sekarang, yang masih jauh dari angka dua puluh lima juta rupiah ini targetan yang ingin saya punya  dan usaha yang mesti saya lakukan adalah adalah:

Punya dana cadangan sebesar 3 kali pengeluaran setiap bulan.

Jauh sebelum nyampai ke bagian investasi, saya pengen ini dulu deh. Bisa memiliki simpanan dana cadangan sebesar 3 kali pengeluaran setiap bulan. Ntar kalau sudah 6 kali pengeluaran tiap bulan baru deh mikirin investasi. Hello…..menurut pendapat saya sih ya, yang namanya investasi itu boleh dilakukan kalau dana cadangan dalam kondisi aman. Lah,  kalau ngumpulin dana cadangan aja kembang kempis piye jal. Februari nanti, saya mesti disiplin nih menabung selembar sehari. Bismillah semoga enggak dicolong tuyul ataupun manusia yang ngaku-ngaku tuyul. Aamiin.

Bebas Hutang Konsumtif

Belakangan ini kalau lagi ngobrol sama temen, bawaanya pasti diceritain penawaran sales kartu kredit di telepon. Saya mah tidak ditawari kartu kredit sama sales bank, karena keuangan saya di bank masih jauh dari kriteria nasabah prioritas. Akan tetapi beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk meliput launching koperasi. Nah, koperasinya ini ternyata koperasi simpan pinjam. Yang khusus memberikan pembiayaan untuk beli tanah, rumah dan nak haji. Entah kenapa, kok saya kurang sreg. Selama acara berlangsung, saya pengen pulang ke rumah, berguru sama Ibuk Bapak gimana caranya beli rumah, beli mobil, beli tanah, daftar naik haji cash tanpa dikredit.
Walaupun program pembiayaan yang ditujukan untuk beli tanah, rumah dan naik haji ini terlihat mulia, tapi kalau dalam pandangan saya akan mencekik. Terlalu banyak kemudahan yang ditawarkan, akan membuat orang mudah berhutang. Berhutangnya mudah, ngelunasinya yang sulit. Kenapa enggak ngundang perencana keuangan untuk menjelaskan soal investasi saja sih??? Kan kata ustaz, kita diminta hidup sesuai kemampuan, jangan ngangkat sesuatu hal di luar kemampuan.
Nomongin hutang, saya pernah diceritain sama temen. Ada mas-mas hampir seumuran sama saya, tuaan dia 1 angkatan. Kata temen saya doi hutangnya banyak banget. Saya masih mikir berapalah utangnya, nggak nyampai puluhan juta juga palingan. Ternyata puluhan juta. Doi pengusaha gitu, cabang usahanya banyak. Tapi nggak tahu, mungkin awal mulanya dari modal hutang ke bank atau gimana. Belum si mas ini juga cerita tentang ceweknya yang nggak bisa diajak makan di pinggir jalan. Makanya paling nggak sebulan penghasilan dia paling nggak Rp 30.000.000,00. Denger cerita temen saya,rasanya mau pingsan.

Saya ada utang sih, ke adik sendiri. Pas jaman dulu banget gegara gadget saya rusak semua dan butuhbanget buat nambahin dana biar bisa kebeli semua. Bismillah, semoga utang di tahun 2018 ini bisa lunas. Gadget-gadget jangan rusak dulu lah ya….Aamiin

Punya catatan keuangan

Saya akhirnya makai aplikasi catatan keuangan di handphone. Biar bisa ngelihat, sebenarnya uang saya ini larinya kemana aja. Apa betul sudah dibelanjakan di jalan Allah? Apakah selama ini saya terlalu foya-foya. Foya-foya nya di sebelah mana. Nah, si catatan ini bakalan ngasih pelaporan dan rata-rata per hari kita ngabisin berapa? Apakah kita deficit atau tidak dll.
Bentuk aplikasinya kayak gini nih. Paling enggak catatan ini akan memonitor seberapa sehat keuangan kita selama ini. Siapa yang tahu,  keuangan yang terlihat baik-baik saja ternyata amburadul nggak karuan.
 


Bismillah ya, semoga ikhtiar ini mengantarkan saya juga kamu (kalau tertarik buat nyobain cara yang sama) untuk menjadi cantik, gaya dan tetap kaya di jalan Allah.


Kalau kamu gimana? Punya cara ngatur duit yang jitu nggak? Boleh dong di-share di comment…

XOXO

Komentar

  1. Saya pernah nyobain aplikasi pencatatan pengeluaran gitu mba, tapi nggak konsisten :( btw coba deh follow @jouska_id di instagram, akun perusahaan perencanaan keuangan independen. Banyak share tips dan story yang bikin kita belajar untuk menghargai uang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi aku coba buat follow nih mbak. Iya nih beberapa hari ini nggak konsistent dan aku gampang suka jajan haha....
      Sedih sedih sedih

      Hapus

Posting Komentar